Catatan Kecil Karya Elsa

//
Catatan Kecil
(Oleh : Elsa)

Aku duduk di bangku kelas ketika istirahat berlangsung. Tidak ada seorangpun bersamaku di dalam kelas. Aku hanya bosan sambil menopang daguku dengan tangan dan menatap ke luar kelas. Mataku menyipit ketika seorang perempuan berjalan tergesa gesa entah akan kemana. Tidak masalah, namun aku memperhatikan sebuah buku kecil jatuh dari tasnya yang menganga. Aku berlari dan beranjak dari duduk untuk mengambil buku itu dan mengembalikan pada perempuan tadi.
   “Hey! Bukumu jatuh!” teriakku, namun perempuan itu tidak mendengar. Mungkin lain kali aku akan kembalikan.
Aku termenung ketika membuka buku itu, bukunya memang biasa saja namun didalamnya terdapat banyak tulisan seperti dialog mungkin? Apa perempuan itu pemain drama dan buku ini berisi skenario dramanya?
Hingga akhirnya di esok hari aku melihat perempuan itu melintasi kelasku lagi, dia tampak mencari cari sesuatu. Aku berinisiatif untuk menghampirinya dan mengembalikan bukunya sekaligus berkenalan tidak apa apa kan.
   “ini bukumu bukan?” tanyaku memulai pembicaraan. Dia menatapku ragu, mungkin dia mengiraku mencuri?
Perempuan itu hanya mengangguk setelah mencurigaiku, dia menerima buku itu dan menggenggamnya. Dia tampak mengeluarkan pena dari saku seragamnya, lalu menuliskan sesuatu pada buku itu.
“terimakasih ya! Kukira ini sudah hilang, kamu baik! Ngomong ngomong namamu siapa?” gumamku ketika membaca tulisan itu. Kenapa ditulis? Kenapa tidak bicara saja? Aku mulai menatapnya penuh selidik dan berfikir apakah perempuan yang didepanku ini bisu. Perempuan itu tampak mengangguk dan tersenyum kecil seolah tahu isi pikiranku.
“namaku Erpan, namamu siapa?” ucapku menjabat tangannya. Dia hanya menunjukkan sebuah nama di bukunya. Aesha, nama yang bagus untuk perempuan manis seperti dia.
Kami mulai bercakap cakap di sepanjang koridor sekolah. Aku mengetahui semuanya, soal kemarin ia berlari tergesa adalah karena ada sekelompok geng yang akan membullynya.
Hingga hari ini aku berlari cepat karena ingin tahu dengan apa yang terjadi di lapangan sampai membuat siswa siswa mengerubungi sesuatu.
Aku tercengang melihat sekelompok geng yang pernah diceritakan Aesha itu membullynya. Mereka mengguyur Aesha dengan seember air. Aku menarik tangan Aesha dari geng itu.
   “cih! Sok pahlawan!”
    “Lihat hei! Si bisu telah merayu Erpan!’’ seru mereka ketika melihatku memakaikan jaketku pada Aesha.
Aesha tidak marah melainkan hanya tersenyum ketika aku mengajaknya ke kelas. Jika aku jadi Aesha, pasti aku membalas mereka.
Aesha duduk di kursinya, ia terlihat sedang mencari cari sesuatu namun tidak ia jumpai. Aku melihatnya merobek kertas dari buku entah milik siapa, ia juga menuliskan sesuatu.
     ‘’jaketmu aku kembalikan setelah aku cuci ya?’’
Esok harinya aku tidak melihat Aesha datang ke sekolah. Dan ada tugas kelasnya yang mungkin belum ia ketahui. Aku berinisiatif untuk datang kerumahnya yang pernah Aesha tunjukkan kepadaku. Hari ini memang mendung tapi tak apalah. Aku menatap parkiran sepeda, aku lihat Rafi salah satu geng yang suka membully Aesha itu berjalan dengan menggenggam buku yang kutahu adalah milik Aesha.
     “Hei! Itu buku milik Aesha kan?” tanyaku pada Rafi yang malah tersenyum sinis padaku. Dia pernah bilang jika aku ini sok pahlawan.
     “Memangnya kenapa?” dia menjawab lalu melempar buku itu ke arahku. Wajahnya tiba tiba tampak gugup. “ambil saja buku itu, aku tidak butuh!” dia langsung pergi begitu saja meninggalkanku yang bingung.
Aku mengambil sepedaku dan mengendarainya ke luar sekolah.hingga akhirnya rumah bercat hijau itu sudah terlihat di mataku dan aku langsung bergegas mengayuh sepedaku dengan cepat. Namun aku terdiam di depan rumah itu setelah mengetuk pintu, terdengar suara bentakkan dari dalam sana.
    “DASAR TIDAK BERGUNA! KERJAMU HANYA MENYUSAHKAN SAJA! MENYINGKIR DARI HADAPANKU ATAU MENYINGKIR DARI HIDUPKU JUGA TIDAK MASALAH!”
Pintu rumah terbuka, aku lihat Aesha yang mengusap air matanya dengan tangannya. Aku melihat dalam rumah Aesha yang sangat berantakan. Aesha menatapku yang terdiam menatap rumahnya. Dia melambaikan tangannya tepat di wajahku.
     “Eh? Oh iya, aku kesini memberimu tugas, dan ini buku yang diambil Rafi,” ucapku menyerahkan buku tugas dan buku miliknya sendiri.
Aesha menulis sesuatu di kertas, lalu menunjukkannya padaku. ‘terimakasih ya? Aku pikir hilang lagi, maaf aku ceroboh,’
Aku tersenyum menanggapinya dan Aesha hanya menggaruk kepalanya. Dia tiba tiba memasukkan buku itu kedalam sakunya setelah ia seperti mengingat sesuatu.
     “Ada apa?” tanyaku bingung, sedangkan Aesha hanya tersenyum dan menggeleng seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Kulihat langit semakin mendung, itu artinya hujan sebentar lagi datang. “aku pulang dulu ya? Sebentar lagi hujan,” aku berlari mengambil sepedaku yang tergeletak di pinggir jalan, aku melambaikan tanganku pada Aesha yang masih berdiri di depan pintu.
Aku pulang, dan berdoa semoga Aesha akan berangkat esok pagi. Aku semakin cepat mengayuh sepeda ketika air hujan mengenai rambutku.
Benar saja pada esok harinya Aesha berangkat, dia tidak berjalan atau diantar oleh pamannya namun bersepeda sepertiku. Kami menjadi lebih dekat dan selalu pulang bersama. Seperti saat ini aku akan pulang sekolah bersamanya, aku lihat geng yang sering Aesha ceritakan dari kejauhan sedang menjaili sepeda milik siswa lain. Aku berdoa saja semoga sepedaku dan sepeda Aesha tidak ikut di usili. Aku menunggu Aesha di atas sepeda, namun Aesha tak kunjung datang. Aku berfikir untuk meninggalkannya saja karena ada tugas sekolah yang belum aku selesaikan.
Esoknya aku sangat tergesa gesa untuk datang ke sekolah. Aku berniat untuk meminta maaf padanya karena telah meninggalkannya kemarin. Sekian lama aku menunggu di depan kelasnya dan tidak ada tanda tanda kedatangannya melainkan Rafi yang malah berlari kearahku.
    “Erpan!” Rafi meneriakan namaku sambil menyerahkan sebuah kertas kecil ke tanganku membuatku bingung dengan maksudnya.
    “Apa? Padahal aku menunggu Aesha bukan dirimu,”
    “Aesha! Dia meninggal!” ucapannya membuatku tertawa lepas. Mana mungkin? Aku saja masih melihatnya kemarin meskipun ada yang berkata jika ‘umur tidak ada yang tahu’
    “Aku serius bodoh! Dia jatuh ke jurang karena remnya blong” lanjut Rafi sedikit membentakku. Aku cepat membuka kertas di tanganku, siapa tahu ada sesuatu yang penting. Dan sepertinya geng yang ada di parkiran kemarin telah merusak sepeda Aesha juga. Aku mulai membacanya dalam hati.
    “Hai Erpan! Ini aku Aesha, perempuan bisu yang dianggap hama oleh orang lain, bahkan orang tuaku sendiri. Aku merasa sendirian, namun ketika kau menjadi temanku, semuanya berubah. Erpan, kau tahu? Aku bahkan ingin mengakhiri hidupku ketika orang tuaku membentakku, menyiksaku dan menganggapku tidak ada. Aku merasa berkecil hati akan hal ini, namun ada kau dan pamanku yang selalu menyemangatiku. Aku selalu ingin membalas mereka yang membullyku namun kata pamanku, keburukan tidak boleh dibalas dengan keburukan jadi aku terima saja. Aku masih bersyukur, meskipun orangtuaku membenciku, mereka masih mau merawatku. Aku lama kelamaan tidak membenci orangtuaku dan mulai terbiasa dengan yang mereka lakukan padaku. Mungkin itu saja yang bisa aku ceritakan, maaf jika mengganggu waktu berhargamu dan tolong sampaikan salamku pada Rafi, aku menyukainya hehe dia tampan dan aku tebak pasti dia akan tertawa sinis sekaligus jijik dengan tulisanku. Terimakasih Erpan, sahabatku.”
Entah mengapa aku tertawa padahal air mataku menetes begitu juga Rafi yang menangis setelah membaca tulisan Aesha.
    “Dia menyukaiku?” Gumam Rafi pelan. Aku melihatnya menangis merasa bersalah.
Aesha, perempuan cantik yang selalu ingin diringankan. Perempuan dengan sejuta senyumnya, perempuan dengan sejuta kesabarannya. Terimakasih telah hadir dihidupku walau sebentar, terimaksih telah banyak memberiku pelajaran hidup tentang arti bersabar dan selalu membalas keburukan dengan kebaikan. Terimakasih telah menceritakan keluh kesahmu padaku, tidak perlu meminta maaf. Aesha, salammu pada Rafi telah aku sampaikan, dia tidak tertawa sinis ataupun jijik melainkan malah menangis. Katanya kenapa kau pergi secepat ini? Hei sobat, semoga tenang di alam sana. Doaku menyertaimu.

Leave a Reply